Balai Diklat Keagamaan Makassar

  • MEMPUBLIKASIKAN PENELITIAN YANG BERKUALITAS

Semakin kompleksnya problematika keagamaan masyarakat, menuntut pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama sebagai lembaga pengambil kebijakan untuk terus menerus memformulasi kebijakan agar memenuhi standar keadilan dan kesesuaian publik. Dalam konteks ini kehadiran sebuah lembaga penelitian dan pengembangan seperti Balai Litbang Agama Makassar mutlak diperlukan.

Balai Litbang Agama Makassar sebagai lembaga penyedia data dan informasi terus berusaha dengan semaksimal mungkin untuk menghasilkan penelitian-penelitian yang berkualitas sebagai upaya untuk mendorong lahirnya kebijakan publik di Kementerian Agama yang berbasis realitas berdasarkan hasil riset.

Selanjutnya upaya sosialisasi hasil-hasil penelitian adalah keharusan yang mendesak bagi Balai Litbang Agama Makassar untuk segera direalisasikan. Disamping itu kebutuhan untuk terus mengoptimalisasi kinerja para peneliti sebagai tulang punggung Balitbang Kementerian Agama juga wajib untuk mendapatkan perhatian yang ekstra.

Peluncuran Website Balai Litbang Agama Makassar yang sederhana ini adalah upaya awal yang dilakukan oleh Balai Litbang Agama Makassar untuk go public, untuk memperkenalkan kepada publik utamanya kepada para user (terutama Kanwil Kemenag se-wilayah kerja Balai Litbang Agama Makassar). Dalam hal ini Balai Litbang Agama Makassar bertekad untuk menjadikan lembaga ini sebagai lembaga penelitian yang berwibawa dengan mempertaruhkan hasil-hasil penelitian yang qualified.

Insya Allah........!

Makassar, Februari 2011

Kepala Balai Litbang Agama Makassar

Dr. H. Abd. Kadir Massoweang, M.Ag

NIP. 19561231 198503 1 025

  • VISI DAN MISI

Visi Balai Litbang Agama Makassar adalah: “Tersedianya Hasil Riset bidang Kehidupan Keagamaan, Pendidikan Keagamaan dan Lektur Keagamaan yang Berkualitas dan Terpercaya Sebagai Dasar Perumusan Kebijakan Pembangunan Agama”.

Sedangkan Misi Balai Litbang Agama Makassar adalah :

  1. Meningkatkan kualitas penelitian dan pengembangan Kehidupan Keagamaan;
  2. Meningkatkan kualitas penelitian dan pengembangan Lektur dan Khasanah Keagamaan;
  3. Meningkatkan kualitas penelitian dan pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan.
  4. Meningkatkan penyiapan data dan Informasi berbasis riset sebagai bahan kebijakan Pembangunan Agama.

Dalam rangka mengimplementasikan Visi tersebut, perlu diwujudkan nilai-nilai yang dapat dijadikan pegangan/pedoman bagi penyelenggara Kelitbangan dalam melaksanakan setiap program dan kegiatan, sejak proses perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi. Nilai-nilai tersebut adalah :

  1. Kualitas, maksudnya setiap SDM dalam lingkup Balai Litbang Agama Makassar selalu berorientasi pada kualitas pekerjaan terutama hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan memberikan manfaat yang optimal;
  2. Tanggung jawab, maksudnya bahwa setiap penyelenggara Litbang harus bertanggung jawab terhadap setiap pekerjaan yang diberikan kepadanya;
  3. Koordinasi, maksudnya bahwa karena kegiatan penelitian dan pengembangan merupakan suatu system, maka setiap penyelenggara litbang harus selalu berkoordinasi/menjalin kerja sama yang harmonis dengan instansi yang terkait rekan kerja di lingkup Litbang Agama Makassar, serta stakeholder yang memanfaatkan penelitian dan pengembangan;
  4. Profesional, maksudnya setiap SDM di lingkup Litbang Agama Makassar harus dilakukan oleh orang yang ahli di bidangnya, sehingga diharapkan akan menghasilkan output yang terbaik terutama Pelayanan Administrasi, Ortala dan Kepegawaian serta Perencanaan dan Keuangan di Balai Litbang Agama Makassar;
  5. Proporsional, maksudnya segala sesuatu di tempatkan menurut proporsi yang semestinya, kegiatan penelitian dilakukan oleh fungsional peneliti, dalam Pengelolaan Kebijakan teknis dan Administrasi Perencanaan Keuangan, Administrasi Kepegawaian, dan umum.
  6. Efektif, bahwa setiap kegiatan penelitian dan pengembangan dilaksanakan secara tepat agar pengambilan langkah dan kebijakan sesuai dengan harapan
  7. Efisien, maksudnya dalam setiap pelaksanaan tugas dilakukan dengan “optimal”, yakni berusaha menghasilkan suatu produk yang sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin, dengan memanfaatkan waktu, tenaga dan biaya yang optimal.
  8.  
  9. Tujuan dan Sasaran
  10. Tujuan, Balai Litbang Agama Makassar yang merupakan implikasi dari Misi Balai Litbang Agama yakni Terwujudnya Kebijakan Pembangunan agama berbasis hasil riset dan tersedianya sumber daya manusia Kementerian Agama yang Berkualitas, artinya Segala kebijakan yang diambil oleh Kementerian Agama RI sudah merupakan hasil dari pengkajian yang mendalam dan hasil riset oleh Balai Litbang, dapat dijabarkan sebagai berikut :
  11. Meningkatnya kualitas dan kuantitas penelitian dan pengembangan kehidupan beragama.
  12. Meningkatnya kualitas dan kuantitas penelitian dan pengembangan pendidikan agama dan keagamaan.
  13. Meningkatnya kualitas dan kuantitas penelitian dan pengembangan lektur keagamaan.
  14. Meningkatnya kualitas dan kuantitas data dan informasi tentang pembangunan keagamaan di wilayah Timur Indonesia.
  15. Menjadi institusi yang berwibawa dengan selalu menyiapkan data yang factual serta informasi yang mendukung perumusan kebijakan Kementerian Agama.
  16. Sasaran yang ingin dicapai adalah digunakannya hasil-hasil riset Balai Litbang Agama Makassar oleh Kementerian Agama, dan instansi terkait/Stakeholder, dengan penjabaran sebagai berikut :
  17. Terwujudnya peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian dan pengembangan Kehidupan beragama.
  18. Terwujudnya Peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian dan pengembangan pendidikan agama dan keagamaan.
  19. Terwujudnya peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian dan pengembangan lektur keagamaan.
  20. Terwujudnya peningkatan kualitas dan kuantitas data dan informasi tentang pembangunan keagamaan di wilayah Timur Indonesia.
  21. Terwujudnya Balai Litbang Agama Makassar sebagai institusi yang berwibawa dengan selalu menyiapkan data yang factual serta informasi yang mendukung perumusan kebijakan Kementerian Agama.
  • SEJARAH

Untuk mendukung pembangunan keagamaan masyarakat yang berkualitas maka pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama memerlukan sebuah lembaga penelitian yang bertugas untuk menyediakan sumber data dan informasi yang mampu mendorong lahirnya kebijakan publik tentang keagamaan yang berbasis realitas berdasarkan hasil riset.

  1. Dalam konteks inilah, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama No. 13 tanggal 16 Maret 1978 maka lahirlah Balai Penelitan Lektur Keagamaan Ujungpandang yang lazim disebut dengan Balai II. Balai II ini merupakan salah satu dari tiga balai (Semarang dan Jakarta) pada Balai Litbang Departemen Agama sebagai unit Pelaksana Teknis di bidang Kelekturan.

    Untuk menyambut KMA tersebut dengan atas bantuan rektor IAIN Alauddin Ujungpandang (saat ini bernama UIN alauddin Makassar), Balai II Ujungpandang ini mendapatkan pinjaman tiga ruangan sebagai sarana untuk melakukan aktifitas kelembagaan, pada saat itu karyawannya hanya berjumlah empat orang dengan komposisi personalia; Kepala Balai, Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Urusan Kepegawaian dan Bendahara. Balai II yang bertempat di IAIN Alauddin Ujungpandang diresmikan oleh Kepala Balai Litbang Departemen Agama Drs Ahmad Loedjito pada tanggal 26 Februari 1980.

    Namun seiring dengan penambahan pegawai setiap tahunnya, maka fasilitas ruangan yang disediakan oleh IAIN Ujungpandang tidak lagi mencukupi. Hal ini kemudian memaksa Balai II untuk berpindah tempat dengan mengontrak rumah di Jalan Beruang (tertanggal 7 Juni 1981), lalu kemudian berpindah lagi ke jalan Nuri No. 43 pada tanggal 13 Maret 1982 hingga tahun 1985. Berdasarkan kenyataan ini Balai II mengusulkan kepada Balai Litbang Pusat agar segera difasilitasi gedung kantor yang defenitif dan sebagai realisasi dari usulan tersebut maka pada hari kamis, 31 Oktober 1985 sebuah kantor yang bertempat di Jalan A. Pangerang Pettarani diresmikan yang kemudian menjadi tempat dimana seluruh aktifitas Balai Lektur Agama Ujungpandang yang pada tahun 2004 berubah menjadi Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar dipusatkan hingga sekarang dan pada tahun 2005 kantor tersebut direnovasi menjadi gedung yang representatif tiga lantai.

    Kehadiran Balai Litbang Agama Makassar selama kurun waktu 31 tahun (1980-2011) telah menghasilkan sejumlah penelitian tentang berbagai sudut kehidupan keberagamaan masyarakat dalam cakupan wilayah kerja yang telah ditentukan. Hasil-hasil penelitian ini tentu saja diharapkan mampu menghasilkan apllied research yang berkualitas dan menjadi supplier data-data yang kongkrit bagi terciptanya kebijakan strategis pemerintah (Kementerian Agama) terutama untuk pengembangan kehidupan keagamaan di Indonesia.